Sudir, S.Pd: Memahami Dasar-Dasar Buddha Dharma - Kantor Kemenag Kabupaten Karimun
Home » » Sudir, S.Pd: Memahami Dasar-Dasar Buddha Dharma

Sudir, S.Pd: Memahami Dasar-Dasar Buddha Dharma

Written By Kemenag Karimun on Tuesday, 8 December 2015 | 17:14

Karimun (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun melalui Penyelenggara Buddha, Senin (7/12/2015) menyelenggarakan kegiatan pembinaan siswa Sekolah Minggu Buddha. Kegiatan pembinaan siswa Sekolah Minggu Buddha se-Kabupaten Karimun tahun 2015 ini berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun dan diikuti sebanyak 35 peserta.

Penyelenggara Buddha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun Sudir, S.Pd dalam penyampaian materi keduanya menyampaikan tentang Dasar-Dasar Buddha Dharma.

“Secara etimologi, perkataan buddha berasal dari”Buddh” yang berarti bangun atau bangkit dan dapat pula berarti pergi dari kalangan orang bawah atau awam.” Katanay memulai.

“Kata kerjanya “bujjanti” antara lain berarti bangun. mendapat pencerahan, mengetahui, mengenal atau mengerti: Orang yang telah memperoleh kebijaksanaan sempurna;orang yang sadar secara sepiritual; orang yang bersih dari kotoran batin yang berupa dosa atau kebencian, Lobha atau serakah dan Moha atau kegelapan. Buddha adalah yang telah mencapai penerangan sempurna. Sidharta Gautama yang menjadi pendiri agama Buddha mendapat julukan  dengan nama Buddha pada waktu berusia 35 tahun. Tujuan akhir dari umat Buddha untuk mencapai penerangan sempurna dan menjadi Buddha.” Terangnya.

“Dharma adalah ajaran yang benar dari Sang Buddha. Ajaran yang diajarkan oleh orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna yakni Sang Buddha. Ada tiga kaidah keagamaan bagi agama Buddha yang disebut Sutra yakni ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri,Vinaya  yakni ajaran tentang disiplin-disiplin yang diberikan oleh Sang Buddha, dan Abhidrma yakni komentar-komentar dan diskusi-diskusi tentang sutra dan Vinaya. Ketiga –tiganya ini disebut Tripitaka, dan Dharma itu merupakan satu satu dari Tri Ratna.” Tambahnya.

“Secara garis besar ajaran agama Buddha dapat dirangkum dalam tiga ajaran pokok, yaitu Buddha,Dharma,Sangha. Ajaran tentang Buddha dapat dirangkum dalam tiga ajaran pokok Buddha Dharma, dan Sangha. Ajaran  tentang Buddha menekankan pada bagaimana umat Buddha memandang Sang Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha dan asas rohani yang dapat dicapai oleh setiap makluk. Ajaran tentang Dharma banyak membicarakan tentang masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam hidupnya, baik yang berkaitan dengan ciri manusia sendiri maupun hubungannya dengan apa yang disebut Tuhan dan alam semesta dengan segala isinya.” Tambahnya lagi.

Ajaran tentang Sangha, lanjut Sudir selain mengajarkan bagaimana umat Buddha memandang Sangha sebagai pasamuan para Bhikkhu, juga berkaitan dengan umat Buddha yang menjadi tempat para Bhikkhu menjalankan dharmanya, juga dengan pertumbuhan dan perkembangan agama Buddha. Buddha di dalam Triratna itu dimaksudkan adalah Buddha Gautama, Dhamma disitu dimaksukan adalah pokok pokok ajaran. Sangha disitu dimaksukan sebagai biara. Ketiga-tiganya dinyatakan asas perlindungan bagi setiap penganut agama Buddha.

“Buddha sebagai Pangeran Sidharta. Periode  ini dimulai dengan saat Sidharta Gautama hingga ia mencapai usia 29 tahun. Diceritakan bahwa, setelah  kelahirannya yang penuh keajaiban,ia meramalkan akan menjadi  raja, jika ia menduduki tahta kerajaan, tetapi akan memilih hidup sebagai orang suci, menjadi penakluk hidup, mencapai kesempurnaan sejati, menjadi Buddha, jika ia melepaskan kediudukan atas tahta yang diwariskan orang tuanya.

Raja Sudhodana ingin agar Sidharta menjadi raja yang besar dan kuasa dari pada menjadi seorang Buddha. Oleh karena itu ia berusaha agar Sidharta tidk melihat penderitaan  dan memahami.” Ujar Sudir mengisahkan.

“Keidakkekalan dunia yang dapat menjadi dorongan baginya untuk meninggalkan keduniawian. Akan tetapi usaha Sudhodana tidak berhasil karena Buddha menjumpai keadaan keadaan yang jauh berbeda dengan apa yang dialaminya selama ini.Pertama bertemu dengan orang yang sudah tua di luar istananya.Kedua bertemu dengan orang  sakit mengerikan. Ketiga dengan orang yang meninggal dunia,dan terakhir dengan seorang pertapa yang sederhana yang wajahnya memperlihatkan wajah penuh kedamaian dan pandangannya sangat tenang.” Lanjut Sudir.

Sidharta Gautama, lanjut Sudir meninggalkan istana pada usia 29 tahun, ketika anak yang pertama lahir. Dengan menunggang kuda Kantaka yang ditemani oleh chana. Kemudian dia memotong rambutnya dan menyerahkan senjata serta perhiasan yang dibawanya kepada chana untuk dibawa kembali ke istana,Sidharta tinggal selama tujuh hari tujuh malam, dan menggunakan waktunya untuk merenungi kehidupan.Dengan langkah ini berakhirlah riwayat P. Sidharta dan mulailah kehidupan sebagai seorang pertapa.

“Setelah tujuh hari tujuh malam ditepi sungai anoma, Sidharta Gautama kemudian berguru kepada dua Brahmana yang termasyur, yaitu Alarakalama dan Udnaka Ramaputra dari keduanya ia mendapatkan pelajaran bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan, manusia harus menjalankan upacara-upacara sembahyang tertentu dan berkorban agar mendapat karunia Tuhan.Selain itu dengan jalan perenungan dan ilmu-ilmu gaib, manusia akan mendapatkan kebahagiaan hidup.Tetapi pelajaran yang didapat dari kedua pendeta brahmana tidak memuaskan hatinya, karena pelajaran tersebut tidak dapat membawa manusia mencapai kebebasan dari penderitaan, kematian, dan kelahiran kembali kemudian memutuskan untuk pergi meninbggalkan mereka menuju Uruwela untuk masuk dan tinggal di sana.” Kisah Sudir lagi.

“Setelah tinggal Uruwela Siddharta muali menjalani hidup dengan menyiksa diri, berpuasa,menjalani segala macam percobaan untuk menguasai diri, maka dalam waktu singkat ia terkenal dengan pertapa yang suci.” Lanjutnya.

Lima orang pertapa berguru kepadanya    untuk mencari kebahagiaan hidup yaitu Kondana,Badiya,Wappa, Mahanama,dan Asaji. Mereka menhan untuk menahan diri di hutan tersebut selama lebih kurang enam tahun lamanya, sehingga membuat kondisi fisik mereka lemah. Ketika Sidharta sedang berjalan-jalan untuk merenungi kehidupan, tiba-tiba ia jatuh pingsan karena kondisi fisiknya yang sangat lemah, akhirnya sadarlah beliau bahwa cara bertapa menyiksa diri yang ekstrim itu adalah cara yang salah.

Pertapa Gautama, lanjut Sudir lagi sadar bahwa cara bertapa menyiksa diri adalah cara yang salah, setelah beliau mendengar suara lagu yang syairnya berbunyi sebagai berikut: Bila senar gitar ini dikencangkan, Suaranya akan semakin tinggi, Putuslah senar gitar ini, Dan lenyaplah suara gitar itu.Bila senar Gitar ini dikendorkan,Suaranya akan semakin merendah, Kalau terlalu dikendorkan ,maka lenyaplah suara gitar itu. Karena itu wahai manusia ,mengapa belum sadar-sadar pula, dalam segala hal janganlah keterlaluan. Akhirnya pertapa Gautama menghentikan tapanya kemudian menjalani hidup layaknya manusia biasa, karena cara baru yang ditempuhnya itu.Pergilah semua murid-muridnya karena dianggap telah murtad,mulai saat itu bertekad menempuh jalan yang dianggap benar,dengan usaha sendiri, menyelidiki, merenungkan dan menembus ke dalam batinyya sendiri, ia melatih dirinya sendiri.

MENDAPAT PENERANGAN MENJADI BUDDHA

“Pada suatu malam di bulan waisak ketika bulan purnama di tepi sungai Nerajara, ketika ia sedang bermditasi dibawah pohon bodhi dengan duduk padmasana melakukan meditasi mengatur pernafasan maka datanglahpetunjuk kepadanya  sehingga ia mendapatkan ilmu pengetahuan tinggi yang meliputi (1). Pubbenivasanussati, yaitu pengetahuan tentang kehidupan dan proses kalahiran kembali. (2). Dibacakku, yaitu pengetahuan dari mata dewa dan mata batin, (3). Cuti Upapatana, yaitu pengetahuan bahwa timbul dan hilangnya bentuk-bentuk kehidupan, baik atau buruk, bergantung pada prilaku masing-masing dan (4). Asyakkhyanana, pengetahuan tentang padamnya semua kecenderungan dan Avidya, tentang menghilangkan ketidaktahuan. “ terang Sudir lagi.

“Dengan pengetahuan tersebut ia mendapatkan penerangan yang sempurna, pengetahuan sejati dan kebebasan batin sempurna. Dia telah mendapatkan penerangan yang sempurna,pengetahuan sejati dan kebebasan batin sempurna.Dia telah mendapatkan jawaban teka-teki kehidupan yang selama ini dicarinya,dengan pengertian penuh sebagaimana tercantum dalam empat Kesunyataan Mulia yaitu,Penderitaan,Sumber penderitaan,Lenyapnya penderitaan,dan delapan cara yang utama menuju lenyapnya penderitaan itu.” Lanjut Sudir.

“Dengan tercapainya penerangan  sempurna tersebut maka Sidharta Gautama telah menjadi Buddha pada umur 35 tahun. Pada minggu terakhir melalui penerangan mendalam, ia berhasil mengetahui sebab akibat dari rangkaian penderitaan. Pada Saat kedua malam itu, Buddha merenungkan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan  dengan kedua cara yaitu dengan langsung dan dengan cara terbalik sekaligus.” Lanjutnya.

“Dengan kegembiraan ia pun bangkit dari pertapaannya dan berangkat menuju kota benares. Pada suatu tempat bernama Sarnath, tidk jauh dari benares, ia berjumpa dengan lima rahib bekas muridnya itu dan kepada merekalah ia mulai menyampaikan ajarannya yang pertama meletakan azaz ajaran dari seluruh ajarannya, terkenal dengan sebutan empat kebenaran utama  dan Delapan Jalan Utama dikenal dengan Arya Attha  Ngika Magga.” Terangnya.

“Selain Pakati Sila ada yg disebut Pannati Sila yaitu  sila yang dibuat oleh manusia berdasarkan kesepakatan atas dasar tujuan tertentu. Contoh : peraturan kebhikkhuan, adat istiadat, peraturan Negara, peraturan lalu lintas dan lain-lain.” Tutupnya.
Share this article :
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Edited By Muntazhir | Mas Template
Copyright © 2011. Kantor Kemenag Kabupaten Karimun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger