Skip to main content

Kemenag RI: Pertemuan Juru Penerang Agama Katolik Provinsi Gerejawi Pontianak

Kemenag RI: Pertemuan Juru Penerang Agama Katolik Provinsi Gerejawi PontianakBertempat di Hotel Orchardz, Pontianak, Kalimantan Barat, Direktur Urusan Agama Katolik, Fransiskus Endang, mewakili Direktur Jenderal Bimas Katolik, membacakan sambutan dan membuka secara resmi Pertemuan Juru Penerang Agama Katolik yang dihadiri 50 peserta, Senin, 9 September 2013. Dalam sambutannya, Dirjen menyampaikan terima kasih kepada para Juru Penerang yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti pertemuan ini. Pertemuan ini, lanjut Dirjen, merupakan momentum yang sangat penting dan istimewa, karena Juru Penerang adalah pengemban amanat pembangunan yang dengan komitmen dan dedikasi tinggi berjuang dengan gigih di medan tugas masing-masing. Dirjen bangga dan bahkan mencatatnya sebagai prestasi penting di bidang pembangunan agama dan keagamaan dalam program Kementerian Agama, secara khusus Bimas Katolik.

Ada dua hal yang menurut Dirjen penting untuk disampaikan terkait arah kegiatan bimbingan Agama Katolik, yakni: 1) Juru Penerang Agama Katolik harus mempunyai dan menunjukkan kekuatan yang memadai dalam kehidupan bermasyarakat, dan 2) Juru Penerang Agama Katolik harus mewujudkan tugas pokok dan fungsinya demi pembangunan kehidupan keagamaan yang makin mendalam dan toleran.

Pemerintah, melalui Kementerian Agama bekerja keras untuk membina dan membimbing serta berupaya meningkatkan mutu Juru Penerang, karena Juru Penerang menjadi ujung tombak, garda terdepan yang memberikan bimbingan agama dan pembangunan masyarakat Katolik dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan nasional. Dalam kerangka itu, lanjut Dirjen, Juru Penerang Agama Katolik harus mampu melaksanakan tugas dan fungsinya menyangkut ajaran iman dan moral Katolik, yang adalah tugas, kewenangan dan tanggungjawab Gereja. Juru Penerang Agama Katolik mendapat tugas perutusan dari Gereja sebagai pewarta karya keselamatan, karena itu, Juru Penerang Agama Katolik harus memiliki "sensus catolicus" yang kuat, berwawasan keagamaan yang luas, serta setia pada ajaran iman dan moral.

Kemenag RI: Pertemuan Juru Penerang Agama Katolik Provinsi Gerejawi PontianakDirjen tidak lupa mengingatkan kepada Juru Penerang Agama Katolik untuk selalu mengantisipasi dan mencegah terjadinya ekses-ekses yang mengganggu bimbingan atau penyuluhan. Juru Penerang Agama Katolik harus mampu melakukan tindakan preventif terhadap munculnya paham sempalan keagamaan dan perlu koordinasi ketika menjalin kerjasama dengan lembaga terkait, dialog, pengembangan wawasan multikultural dan kearifan lokal. Juru Penerang Agama Katolik harus berjalan bersama ombak dan menjinakkan badai. Maka jangan lupa Sang Penjinak badai, yang tidur di buritan perahu.

Juru Penerang Agama Katolik adalah suluh, obor, terang bagi orang lain. Karena itu Juru Penerang Agama Katolik perlu terus membekali diri dengan wawasan keagamaan, menyelami kedalaman hidup konkret masyarakat dengan terus menggali kearifan lokal, di pihak lain tetap menjalin komunikasi yang baik dengan pihak Gereja, sebagai langkah antisipatif strategis dan aplikatif bagi pelaksanaan bimbingan atau penyuluhan.

Sasaran penting dari pertemuan ini adalah: 1) sebagai sebuah refleksi tentang siapa Juru Penerang Agama Katolik itu, apa tugas pokoknya, siapa sasaran binaannya, dimana lokasinya, apa bidang tugas dan kegiatannya, bagaimana pengembangan profesinya, dan bagaimana penilaian kinerjanya; 2) sebagai momentum untuk berbenah diri dan mengasah kemampuan Juru Penerang Agama Katolik sebagai tenaga teknis keagamaan Katolik, dan 3) sebagai referensi, sumber dan dasar berpijak bagi pengembangan profesionalitas pelayanan kepada masyarakat Katolik.Kemenag RI: Pertemuan Juru Penerang Agama Katolik Provinsi Gerejawi Pontianak

Comments