Skip to main content

Kemenag RI: Imam Suprayogo: Suryadharma Ali Dekatkan Pemuda-Agama

Kemenag RI: Imam Suprayogo: Suryadharma Ali Dekatkan Pemuda-Agama
Kemenag RI: Imam Suprayogo: Suryadharma Ali Dekatkan Pemuda-Agama
Kemenag RI: Imam Suprayogo: Suryadharma Ali Dekatkan Pemuda-Agama

Jakarta (Pinmas) – Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Prof Dr H Imam Suprayogo MS menilai Menteri Agama Dr (HC) H. Suryadharma Ali dalam kebijakannya telah berusaha mendekatkan kalangan pemuda dengan agama melalui integrasi antara ilmu agama dengan ilmu umum.

“Generasi muda harus lebih didekatkan dengan kitab suci, jika mereka sebagai mahasiswa beragama Islam hendaknya lebih dekat dengan Al-Quran, dekat dengan masjid dan para tokoh agamanya dan demikian juga bagi penganut agama lainnya sehingga ke depan dapat dihasilkan manusiaberkualitas, berakhlak, dan beriman,” katanya di Jakarta, Rabu (26/02).

Dalam bedah buku berjudul “Suryadharma Ali: Gagasan, Ucapan, dan Tindakan dalam Mencerahkan Pendidikan Islam dan Kerukunan Umat” yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, agama dan pemerhati sosial, Imam menegaskan bahwa pemikiran besar Suryadharma Ali tidak hanya sebatas memajukan pendidikan melalui madrasah dan pondok pesantren.

“Pemikiran Suryadharma Ali jauh ke depan, bahwa melalui lembaga pendidikan diharapkan lahir manusia Indonesia berkualitas, berakhlak dan menguasai ilmu agama dan teknologi,” katanya dalam acara yang juga dihadiri Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Dirjen Bimas Islam Abdul Djamal, Dirjen Bimas Hindu Joko Wuryanto, dan Dirjen Pendidikan Islam Prof Nur Syam.O

leh karena itu, Suryadharma Ali tidak membatasi bahwa lembaga pendidikan agama hanya wajib mempelajari Al Quran dan hadist dan ilmu agama lainnya, tetapi juga mampu mengintegrasikan ilmu agama dan pengetahuan umum lainnya.

“Jadi, ke depan, anak didik tak sekadar dapat membaca yang tertulis tetapi di luar itu pun bisa dipahami, yaitu Ayat Kauniah. Semesta alam dan isinya harus digali guna kepentingan kesejahteraan umat. Itu juga berlaku bagi anak dididik dari agama lainnya. Jadilah pemeluk agama sejati,” katanya.

Bahkan, gagasan Suryadharma Ali juga tidak sekadar membesarkan lembaga pendidikan Islam di Indonesia untuk warga di sekitarnya, tapi juga bagi warga dunia, karena itu mahasiswa asing harus banyak belajar di Indonesia.“Terlebih kehidupan beragama dengan segala toleransinnya pantas dijadikan contoh mereka. Jika hal itu juga diikuti dengan lembaga pendidikan Kristen, Buddha dan lainnya, Indonesia bakal menjadi pusat peradaban bagi dunia ke depan,” katanya.

Selain Imam Suprayogo, pembicara utama dalam acara itu adalah Dr (HC) KHA Hasyim Muzadi (NU), Romo Agus Ulahayana (KWI), Ir. Arif Harsono MM (Ketua DPP Walubi), Rev. Wempi dan Lintuuran(tokoh Kristen, Ketua STT Eukemene Jakarta). (ess/mkd/mkd)

Kemenag RI: Romo Agus: Awalnya Mengira Pencitraan, Ternyata Bukan

Jakarta (Pinmas) —- Romo Agus Ulahayana  dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengatakan bahwa tidak menyangka gagasan Menteri Agama Suryadharma Ali sedemikian maju. Romo Agus mengaku bahwa awalnya mempunyai pikiran negatif bahwa peluncuran buku tersebut sebagai pencitraan, tetapi setelah membaca isinya kecurigaan tersebut sirna.

“Buku berupa jejak Menteri Agama ini banyak mengandung pesan moral. Dari sisi kerukunan agama, ada pesan agar umat meningkatkan kualitas kehidupan beragama. Pesan itu sungguh sangat penting,” kata Romo Agus ketika menjadi salah satu pembicara utama dalam bedah buku “Suryadharma Ali: Gagasan, Ucapan, dan Tindakan dalam Mencerahkan Pendidikan Islam dan Kerukunan Umat”, Jakarta, Rabu (26/02).

Pesan lainnya, lanjut Romo, agama bukan sekadar dipahami, tetapi diamalkan. Jika itu dijalankan, tentu toleransi yang sudah ada di Tanah Air akan terus terjaga sampai ke akarnya.

Romo juga menilai bahwa Suryadharma sangat menitikberatkan ilmu agama dan pengetahuan umum. Menurutnya, ini penting, karena kehidupan sehari-hari harus selalu diwarnai dengan pemahaman agama yang benar. “Manusia berkualitas adalah mereka yang berilmu dan mempunyai hati nurani,” terangnya.

Sementara itu, tokoh Kristen Wempi Lintuuran mengatakan slogan madrasah harus lebih baik yang dikumandangkan Suryadharma Ali sesungguhnya berlaku juga bagi pendidikan agama lainnya.

“Itu bukan monopoli umat Muslim. Umat lain pun harus lebih baik guna membawa bangsa Indonesia lebih baik,” kata Wempi.

“Perubahan dalam dunia pendidikan dewasa ini harus terjadi. Perubahan untuk menghasilkan manusia berkualitas adalah manusia yang taat beragama, dapat menjalankan ibadahnya dengan baik sehingga berakhlak mulia. Dengan cara itu, kehidupan toleransi bisa berjalan baik. Kita perlu pemikiran besar seperti Suryadharma Ali,” kata Ketua STT Eukemene Jakarta itu.

Pandangan itu juga diungkapkan tokoh Islam KHA Hasyim Muzadi dari NU. Kyai Hasyim berpendapat sudah sewajarnya pendidikan bersifat dikotomi dihapuskan. Pengintegrasian ilmu agama dan pengetahuan umum lainnya sudah harus dikedepankan.

“Jiwa pondok pesantren bisa dipindahkan ke tempat lain, seperti UIN dan lembaga Islam lainnya. Jiwa dan roh pondok pesantren harus hidup dan masuk dalam kehidupan,” katanya.

Untuk itu, Kyai Hasyim menjelaskan agama sesungguhnya bisa dijadikan pisau analisis bagi orang berilmu. Karena itu, tak ada lulusan pondok menjadi ekstremis. “Mungkin ada, tetapi dari pondok yang baru berdiri belakangan ini, sebab Islamnya sama tetapi metodenya berbeda,” katanya.

“Pertikaian antarwarga yang ada dijadikan konflik agama, sebab ada pihak mencari untung dari konflik dengan melaporkan suasana yang terjadi di daerah bersangkutan ke luar negeri,” imbuhnya.

Buku itu melibatkan sejumlah penulis antara lain Ruchman Basori, Fahmi Arif, Muhtadin AR, dan Sholla Taufiq. Para penulis ini mencoba untuk “memotret” beragam aktivitas Menteri Agama Suryadharma Ali selama memimpin kementeriannya. (ess/mkd/mkd)

Kemenag RI: SDA Tokoh Intelektual Islam Berjiwa Pluralis Nasionalis

Jakarta (Pinmas) -Lima tahun, Suryadharma Ali menjadi Menteri Agama Republik Indonesia. Para tokoh agama menilai menteri kelahiran Jakarta, 19 September 1956 ini sebagai tokoh intelektual Islam yang Islami, berjiwa pluralis dan nasionalis.

“Pak Surya adalah tokoh Indonesia sejati. Ia bisa dikatakan 100 persen Indonesia dan 100 persen Islam,” kata Romo Agus Ulahayanan, pengurus Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada bedah buku bertajuk ‘Suryadharma Ali: Gagasan, Ucapan dan Tindakan dalam Mencerahkan Pendidikan Islam dan Kerukunan Umat’ di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (26/2).

Menurut Romo Agus, gagasan SDA sapaan akrab Suryadharma Ali tentang integrasi ilmu dengan agama sangat menarik. Dengan demikian ada hubungan antara rohani dengan jasmani, antara otak dengan hati, sehingga bagi peserta didik disamping menerima ilmu pengetahuan umum juga diimbangi dengan ajaran agama yang mendalam.

“Munculnya kekacauan di tanah air ini, karena banyak orang pinter tapi tidak punya hati,” kata Romo Agus.

Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Imam Suprayogo berpendapat, cukup banyak kiprah Menag Suryadharma Ali dalam pengembangan pendidikan Islam di tanah air. “Saya menjadi rektor 16 tahun, mengalami tujuh Menteri Agama, masing-masing punya keistimewaan termasuk pak Suryadharma Ali,”ucap mantan Rektor UIN Malang.

Salah satunya lanjut dia, SDA senantiasa merespons positif untuk kemajuan pendidikan Islam. “Biasanya kita bangga jika kita melepas anak-anak belajar di luar negeri, sekarang bagaimana perguruan tinggi di Indonesia menerima mahasiswa asing. Pak Menteri sangat merespons gagasan ini,” terang Imam.

Di UIN Malang, lanjutnya, saat ini terdapat mahasiswa asing dari 29 negara antara lain Philipina, Rusia, Malaysia, Sudan, Lybia. Bahkan ada dari Saudi Arabia dan Amerika Serikat. Jadi sudah saatnya Indonesia menjadi guru,” jelas Imam.

Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, toleransi baru bisa dikatakan berhasil jika tumbuh dari agama masing-masing. “Saya sependapat dengan Menteri Agama bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia merupakan kerukunan yang terbaik di dunia,” katanya.

Menurutnya, konflik yang terjadi tanah air tidak bisa disebut konflik agama. “Konflik di Indonesia sporadis bukan karena kesadaran agama,” jelasnya. Acara bedah buku  dihadiri oleh Menteri Agama Suryadharma Ali, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat.

Buku yang diterbitkan LKiS Yogyakarta tersebut,  oleh Ein Institute yang menjadi penyelenggara kegiatan peluncuran dinilai sebagai  apresiasi atas kiprah Menteri Agama dalam pengembangan pendidikan agama dan kerukunan umat.

Terlibat sebagai penulis Ruchman Basori, Fahmi Arif, Muhtadin AR, dan Sholla Taufiq. Para penulis ini mencoba untuk “memotret” beragam aktivitas Menteri Agama Suryadharma Ali selama memimpin kementeriannya.

“Bagi saya buku ini adalah kejutan. Sudah dua tahun ini saya ingin menulis buku tapi tidak kesampaian. Tapi ternyata buku yang tidak terencana ini malah ada yang menuliskan. Terima kasih kepada tim penulis,” tutur Menag Suryadharma Ali. (ks/mkd)

Kemenag RI: KH Hasyim Muzadi: Tidak Ada Ekstrimisme di Pesantren Tradisional

Jakarta (Pinmas) —- Tidak ada ekstrimisme di pondok pesantren yang keberadaan dan tradisinya bahkan sudah ada lebih dahulu dari bangsa Indonesia. Pesantren itu adalah pesantren lama yang biasa disebut dengan pesantren tradisional atau pesantren salafiyah.

“Ekstrimisme tidak ada di pondok pesantren lama. Jiwa dan ruh santri pesantren tradisional diajarkan untuk melakukan pendekatan yang seimbang antara kehidupan, agama dan bernegara,” tegas Mantan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, KH Hasyim Muzadi, ketika menjadi salah satu pembicara dalam bedah buku “Suryadharma Ali: Gagasan, Ucapan, dan Tindakan dalam Mencerahkan Pendidikan Islam dan Kerukunan Umat” di Jakarta, Rabu, (26/02).

Selain Kiai Hasyim, hadir juga sebagai narasumber Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Malang), Romo Agus Ulahayanan (Katolik-KWI), Wempi Lintuuran (Kristen, Ketua STT Eukemene Jakarta), Asrori S Karni (Pemred Majalah Gatra), dan Arif Harsono (DPP Walubi).

“Toleransi dalam kehidupan pesantren lama, terjalin dengan sangat baik dalam kehidupan sehari-hari santri,” tambah Hasyim.

Hasyim mensinyalir bahwa ekstrimisme kemungkinan ada di pondok pesantren baru, di mana Islamnya sama, namun jiwa dan ruhnya berbeda. “Orang baru pulang dari luar negeri, lalu mendirikan pesantren. Nah, parahnya, ajaran yang diajarkan masih terkena pengaruh masalah-masalah politik di tempat mana dia belajar dulu, biasanya di Timur Tengah, Asia Selatan, dan sekitarnya,” terang Hasyim.

Dikatakan Hasyim, orang seperti ini mengajar di Indonesia, namun tidak memakai jiwa dan ruh Indonesia. Mereka memakai ruh dan jiwa di luar sana, bisa wahabi, bisa yang lainnya, yang kebetulan, berbeda dengan karakter Indonesia.

Menurut Hasyim, dirinya  pernah mengusulkan agar anak-anak yang belajar ke luar negeri, setelah pulang, perlu di Indonesiakan lagi. Hasyim khawatir akan muncul kesalahpahaman mereka akibat terbawa emosi kondisi  di luar Indonesia, di mana ada konflik yang sebenarnya adalah konflik politik dan konflik non agama yang dikemas sedemikian rupa, sehingga seakan-akan menjadi konflik agama.

Hal ini diperparah, lanjut Hasyim, pasca reformasi, Indonesia menjadi negara yang sangat terbuka. Semua hal, masuk di negeri ini. “Seluruh ideologi, masuk ke Indonesia. Dampaknya, terjadilah friksi-friksi. Maka atas nama HAM, kita seakan-akan yang bersalah,” kata Hasyim.

Hasyim mengaku sepakat dengan Menag tentang toleransi yang telah tertanam di Bumi Nusantara, ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. “Saya sepakat dengan Pak Menteri, bahwa Indonesia, paling bagus toleransi beragamanya di seluruh dunia ini. Karena para pendahulu kita telah mengkonsep agar Indonesia begitu, yakni toleran,” ujar Hasyim.

Untuk itu, Hasyim mengatakan bahwa yang terjadi di Indonesia sebenarnya bukan intoleransi yang meningkat, namun lebih pada kurang siapnya masyarakat kita dalam memahami demokrasi yang melaju sangat cepat dan spektakular di negeri ini. “Harus di pahami, bahwa banyak yang berkepentingan dengan negeri kita ini,” pesan Hasyim. (gpenk/mkd/mkd)

Comments