Kementerian Agama saat ini sedang menggalakkan program “Gerakan Maghrib Mengaji”. Program yang dimaksudkan adalah kebiasaan mengaji (membaca) kitab suci Al-Quran sesudah shalat Maghrib. Dengan Gerakan Maghrib Mengaji ini diharapkan dapat menangkal pengaruh negatif yang ditayangkan oleh lima ‘layar’. Kelima layar itu adalah layar televisi, telepon seluler (ponsel), internet, komik, dan majalah. Biasanya anak-anak dan orang dewasa masih suka menonton televisi pada waktu maghrib, sehingga kebiasaan mengaji setelah shalat maghrib itu seringkali dikalahkan oleh televisi, salah satu dari lima layar tadi..
Ada program ini atau tidak, membaca Al-Quran setelah shalat Maghrib sudah saya lakukan sejak masih sekolah di Padang dulu. Kebiasaan ini tetap diteruskan ketika saya kuliah di Bandung. Ada perasaan berbeda ketika mengajiAl-Quran di perantauan dengan membaca Al-Quran di kampung halaman sendiri. Karena merasa jauh dari orang tua maka mengaji Quran itu terasa lebih khusyuk, seolah-olah ada perasaan rindu pada kampung halaman dan keluarga di rumah.
Di tempat kos saya semasa masih mahasiswa rata-rata teman juga mengaji Al-Quran di kamar masing-masing. Kami shalat sendiri-sendiri di kamar (nggak bagus ya?), lalu setelah shalat mulai terdengar alunan ayat Al-Quran dari setiap kamar. Ada yang membacanya dengan tartil, ada yang membacanya pakai qiraah yang merdu seperti qori yang sering tampil pada acara musabaqah. Karena posisi kamar berdekatan, maka suara teman yang mengaji terdengar satu sama lain. Seperti lomba mengaji saja, he..ha.
Hingga hari ini setelah saya berkeluarga dan mempunyai anak, kebiasaan maghrib mengaji ini masih tetap berlanjut. Suara saya memang tidak terlalu merdu, qiraah saya tidak sebagus istri saya. Namun, ada perasaan tentram yang timbul setelah membaca kitab suci. Hati yang gelisah menjadi tenang. Benar bahwa Al-Quran itu adalah obat untuk ketenangan jiwa.
Saya merasa bersyukur karena orangtua saya dulu memasukkan saya ke TPA (Taman Pendidikan AlQuran) ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Masuk sekolah pagi, sorenya sekolah di TPA. Saya bersyukur karena kalau tidak ikut TPA itu, mungkin saya tidak pernah bisa lancar membaca AlQuran hingga sekarang. Di TPA tidak hanya belajar membaca Al-Quran, tetapi juga belajar ilmu tajwid (semacam cara membaca Quran yang baik dan benar), bahasa Arab, akhlaq, tarihk Islam, dan sebagainya. Saat ini di sekolah-sekolah negeri pelajaran agama hanya 2 jam seminggu, maka pelajaran mengaji mungkin sangat terbatas atau mungkin tidak ada. Orangtua yang sadar akan pentingnya membaca Al-Quran sejak dini memasukkan anaknya ke TPA di masjid dekat rumah pada sore hari.
Sewaktu kuliah masih banyak teman saya yang tidak bisa membaca Quran. Mungkin karena dia tidak mendapat pendidikan agama waktu kecil, atau mungkin dia sekolah di sekolah non-muslim yang tidak memberikan pelajaran agama Islam. Namun kesadaran beragama itu mulai muncul ketika mahasiswa. Lingkungan pergaulan di ITB dengan karakter mahasiswa yang beraneka ragam menghadirkan dua kutub yang berseberangan: pergaulan yang sekuler dengan teman-teman yang sekuler juga, dan pergaulan yang “lebih islami” dengan teman-teman aktivis dakwah kampus seperti GAMAIS. Kehadiran Masjid Salman berperan besar menumbuhkan gairah beragama, termasuk belajar membaca Quran. Utunglah GAMAIS dan Koordinator Asisten kuliah Agama Islam mengadakan mentoring khusus untuk membimbing para mahasiswa yang belum bisa membaca Quran.
Tidak ada kata terlambat untuk belajar membaca Quran. Kolega saya — dosen senior — yang sudah profesor di STEI ITB tidak malu mendatangkan guru privat ke rumah untuk membimbingnya belajar membaca Al-Quran. Kebetulan guru privatnya itu tetangga saya yang alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Profesor dan istrinya tekun belajar mengaji dibimbing oleh guru privat ini. Alhamdulillah, Prof, kesadaran itu muncul sebelum takdir Allah SWT nanti memanggil.
Sumber : http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/04/04/gerakan-maghrib-mengaji/
Comments
Post a Comment