Dulu, Tradisi keluarga islam Indonesia mengaji
selepas maghrib menjadi hal yang “wajib”. Dengan busana muslim Tua muda,
muda – mudi, anak-anak hingga dewasa, di desa maupun di kota semuanya
sangat antusias dengan budaya mengaji selepas maghrib. Tapi, budaya
tersebut nampaknya kian hari kian luntur. Merosot dengan sudut
kemiringan yang sangat tajam. Mengapa demikian?
Adalah
perkembangan zaman dan teknologi salah satu penyebab lunturnya “acara”
mengaji. Selain itu, kesibukan rutinitas pekerjaan juga acap kali
“melupakan” rutinitas mengaji.
Sungguh, kita
sangat merindukkan sekali kebiasaan baik ini seperti sediakala. Bahkan
pemerintah melalui departemen agama RI mencanangkan Program Gerakan
Masyarakat Maghrib Mengaji atau dikenal dengan GEMMAR Mengaji. Sisi
positif kebiasaan mengaji adalah dapat meminimalisir tawuran antar
pelajar maupun mahasiswa yang marak terjadi akhir – akhir ini. Hal ini
diungkapkan oleh Menteri Agama RI, Suryadharma ali.
Menurut
suryadharma ali seperti di lansir republika , “Tapi saya berfikir,
kenapa susah-susah karena ibu bapak dan nenek-nenek kita sudah
mewariskan budaya yang luar biasa yaitu Maghrib mengaji,” terangnya saat
memberikan sambutan deklarasi Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji
(Gemmar Mengaji) di Kota Yogyakarta, Rabu (26/9).
Kebiasaan ini menurutnya, sekarang mulai hilang karena banyaknya tayangan televisi yang bagus-bagus namun tidak memiliki nilai edukasi. Itu yang kemudian mengikis keimanan dan mempengaruhi pertumbuhan jiwa anak. Karenanya Mengaji Maghrib merupakan solusi bagi pendidikan karakter anak-anak. Pasalnya pendidikan karakter paling bagus adalah di rumah. Melalui gerakan ini pihaknya optimis tawuran pelajar dan narkoba bisa diminimalisir.
Berikut ini sedikit tips dari keluarga-sakinah agar membiasakan budaya mengaji.
Matikan sejenak televisi.
STOP menonton!
Dan matikan televisi saat adzan maghrib berkumandang. Televise memang
mengundang hati untuk ingin berlama – lama menonton acara. Baik gossip,
hiburan, sinetron, ataupun berita petang. Paksakan diri anda untuk
mematikan televisi. Toh masih banyak acara – acara tersebut di lain
waktu. Dan jika tidak dipaksa, akan menjadi kebiasaan tidak mengaji.
Orang tua ialah teladan anak.
Buah tidak jatuh dari pohonnya
itulah peribahasa yang tepat untuk penggambaran ini. Orang tua yang
tiap hari membimbing dan merawat anak harus member teladan. Sesaat
selepas sholat maghrib ambil kitab Al-Qur’an dan mengajak buah hati
untuk membaca bersama. Jika si kecil masih tingkatan Iqro, orang tua
harus menuntun step by step sang anak. Dan ingat, orang tua juga harus mengaji juga lhoo.
mengundang guru mengaji ke rumah.
Bagaimana jika
orang tua tidak bisa membimbing buah hati karena suatu hal? Yaps tentu,
kita bisa mengundang seseorang untuk mengajarkan si kecil. Jika kita di
kota, tentu banyak dijumpai lembaga privat yang menyediakan jasa privat
mengaji.
Tentu harus sedikit merogoh kocek untuk masa depan buah hati. Karena kebiasaan baik itu mahal.
pergi ke musholla, ngaji bersama.
Ini merupakan
tradisi khas nenek moyang Indonesia. Pergi bersama mengaji bersama dan
pulang ngaji bersama. Nampaknya kultur seperti ini masih mengakar kuat
di pedesaan. Mengaji di sanggar dibimbing langsung oleh seorang guru
atau ustadz sangat bahagia.
Sedikit asal konsisten.
Bagi anda
seorang mahasiswa, karyawan, atau pegawai kantoran, tentu tips ini yang
bisa dijadikan rujukan. Sempatkanlah mengaji walaupun kesibukkan terus
melanda dan bertubi – tubi. Tak perlu banyak – banyak 1 – 2 lembar per
hari sudah cukup. Awalnya memang sulit. Tapi coba, Paksakan diri anda
karena membaca Al-Qur’an adalah salah satu benteng keimanan kita dan
sebagai Charge keimanan kita.
Jadikan keluarga kita keluarga sakinah dengan membiasakan membaca Al-Qur’an bukan hanya dibaca tetapi juga memahami artinya.
Wallohu a’lam.
sumber : www.keluarga-sakinah.com
Comments
Post a Comment