Kemenag RI: Pentingnya Pembimbing Ibadah.
Makkah
(Pinmas) —- Dalam kerumunan jamaah yang sedang beribadah Sa’i, Asep AM
bertemu dengan seorang jamaah (sebut saja Abdul) yang terlihat bingung
mencari arah pulang ke pemondokan.
Asep bertanya nomor rumahnya, dan Abdul menjawab bahwa dirinya tinggal di sektor dua.
Ingin memastikan bahwa Abdul sudah menyelesaikan umrahnya, Asep mengabsen urutan peribadahannya. “Apakah sudah tawaf?” tanya Asep. Abdul menjawab sudah. “Itu kan yang memutar sebanyak tujuh kali?” jawabnya tegas dan penuh bangga.
Asep kembali bertanya, “Sudahkah bertahalul?” Abdul pun mengangguk, tanda sudah melakukannya.
Agak tidak berurutan memang, tapi begitulah Asep bertanya untuk yang ketiga kalinya, “Sudahkah melakukan Sa’i?” tanya Asep. “Itu dia, bagaimana tuh caranya, saya belum Sa’i tapi pakaian saya sudah berganti,” kata Abdul.
Asep terbelalak dengan jawaban Abdul. Pada saat yang sama, urat tawanya terangsang demikian kuat hingga dia pun terbahak. Tidak tahu apakah Abdul paham alasan Asep tertawa ataukah tidak, tapi nyatanya dia pun ikut tertawa sambil mengulang perkataannya, “Itu dia, bagaimana tuh caranya, saya belum Sa’i tapi pakaian saya sudah berganti.”
Kisah ini mungkin tidak persis dengan kejadian aslinya, tapi juga bukan sebuah kisah fiktif. Kisah ini hanya secuil dari sekian banyak problem peribadahan yang dialami para jamaah haji di Masjidil Haram, terlebih ketika mereka sedang merasa panik lantaran terpisah dari kelompoknya, bingung dengan keberadaannya. Kemenag RI: Pentingnya Pembimbing Ibadah.
Kisah ini pula yang menunjukan betapa kehadiran pembimbing ibadah sangat diperlukan di tengah-tengah hiruk-pikuk pelaksanaan ibadah di Tanah Haram. Kehadiran pembimbing ibadah penting karena dengan begitu jamaah bisa memperoleh arahan akan kesempurnaan pelaksanaan ibadahnya, minimal dalam pelaksanaan syarat rukunnya.
Ini bukan hanya tentang Abdul yang terlanjur tahallul dan berganti pakaian, meski belum Sa’i. Tapi ini tentang jamaah haji Indonesia yang seringkali kebingungan dalam hitungan Tawaf dan Sa’inya. Tidak sedikit ditemukan, jamaah yang baru menyelesaikan lima kali putaran namun keluar dari arena tawaf karena berbagai alasan; kecapean, terpisah dari rombongan, dan lainnya.
Tidak sedikit pula mereka yang tidak tahu cara hitungan Sa’inya. Juga lupa bertahallul sebagai penutup rangkaian ibadah umrahnya.
Manasik haji memang sudah dilakukan. Jamaahpun mestinya memahami tentang tata urutan haji, bahkan sejak masih di Tanah Air. Hanya, tempat dan kondisi Masjidil Haram yang sangat padat, seringkali membawa kebingungan tersendiri, terlebih mereka sedang didera kelelahan oleh perjalanan panjang. Bahkan bagi jamaah yang muda, apalagi yang sudah lansia. Peran pembimbing ibadah sangat penting, kehadirannya sangat vital, bagi kesempurnaan pelaksanan ibadah jamaah haji Indonesia.
Sudah lama kita berkutat dalam isu transportasi, katering, pemondokan, kesehatan, dan lainnya. Sudah lama pula kita alpa akan fokus pada pentingnya pembimbingan ibadah bagi jamaah Indonesia hingga mereka bisa melaksanakan ibadahnya dengan baik. Benar kata seorang sahabat dalam kesempatan bercanda, Ini Adalah Ibadah Haji, Bukan Traveling Haji…Semestinya ibadah menjadi prioritas perhatian semuanya..semoga bermanfaat! (mkd/mkd)
Kemenag RI: Pentingnya Pembimbing Ibadah.
Asep bertanya nomor rumahnya, dan Abdul menjawab bahwa dirinya tinggal di sektor dua.
Ingin memastikan bahwa Abdul sudah menyelesaikan umrahnya, Asep mengabsen urutan peribadahannya. “Apakah sudah tawaf?” tanya Asep. Abdul menjawab sudah. “Itu kan yang memutar sebanyak tujuh kali?” jawabnya tegas dan penuh bangga.
Asep kembali bertanya, “Sudahkah bertahalul?” Abdul pun mengangguk, tanda sudah melakukannya.
Agak tidak berurutan memang, tapi begitulah Asep bertanya untuk yang ketiga kalinya, “Sudahkah melakukan Sa’i?” tanya Asep. “Itu dia, bagaimana tuh caranya, saya belum Sa’i tapi pakaian saya sudah berganti,” kata Abdul.
Asep terbelalak dengan jawaban Abdul. Pada saat yang sama, urat tawanya terangsang demikian kuat hingga dia pun terbahak. Tidak tahu apakah Abdul paham alasan Asep tertawa ataukah tidak, tapi nyatanya dia pun ikut tertawa sambil mengulang perkataannya, “Itu dia, bagaimana tuh caranya, saya belum Sa’i tapi pakaian saya sudah berganti.”
Kisah ini mungkin tidak persis dengan kejadian aslinya, tapi juga bukan sebuah kisah fiktif. Kisah ini hanya secuil dari sekian banyak problem peribadahan yang dialami para jamaah haji di Masjidil Haram, terlebih ketika mereka sedang merasa panik lantaran terpisah dari kelompoknya, bingung dengan keberadaannya. Kemenag RI: Pentingnya Pembimbing Ibadah.
Kisah ini pula yang menunjukan betapa kehadiran pembimbing ibadah sangat diperlukan di tengah-tengah hiruk-pikuk pelaksanaan ibadah di Tanah Haram. Kehadiran pembimbing ibadah penting karena dengan begitu jamaah bisa memperoleh arahan akan kesempurnaan pelaksanaan ibadahnya, minimal dalam pelaksanaan syarat rukunnya.
Ini bukan hanya tentang Abdul yang terlanjur tahallul dan berganti pakaian, meski belum Sa’i. Tapi ini tentang jamaah haji Indonesia yang seringkali kebingungan dalam hitungan Tawaf dan Sa’inya. Tidak sedikit ditemukan, jamaah yang baru menyelesaikan lima kali putaran namun keluar dari arena tawaf karena berbagai alasan; kecapean, terpisah dari rombongan, dan lainnya.
Tidak sedikit pula mereka yang tidak tahu cara hitungan Sa’inya. Juga lupa bertahallul sebagai penutup rangkaian ibadah umrahnya.
Manasik haji memang sudah dilakukan. Jamaahpun mestinya memahami tentang tata urutan haji, bahkan sejak masih di Tanah Air. Hanya, tempat dan kondisi Masjidil Haram yang sangat padat, seringkali membawa kebingungan tersendiri, terlebih mereka sedang didera kelelahan oleh perjalanan panjang. Bahkan bagi jamaah yang muda, apalagi yang sudah lansia. Peran pembimbing ibadah sangat penting, kehadirannya sangat vital, bagi kesempurnaan pelaksanan ibadah jamaah haji Indonesia.
Sudah lama kita berkutat dalam isu transportasi, katering, pemondokan, kesehatan, dan lainnya. Sudah lama pula kita alpa akan fokus pada pentingnya pembimbingan ibadah bagi jamaah Indonesia hingga mereka bisa melaksanakan ibadahnya dengan baik. Benar kata seorang sahabat dalam kesempatan bercanda, Ini Adalah Ibadah Haji, Bukan Traveling Haji…Semestinya ibadah menjadi prioritas perhatian semuanya..semoga bermanfaat! (mkd/mkd)
Comments
Post a Comment