Kemenag Bali: Dharma Wacana Mengenai Siwaratri di Dinas Kesehatan Propinsi Bali

Kemenag Bali: Dharma Wacana Mengenai Siwaratri di Dinas Kesehatan Propinsi Bali

(Ura Hindu) Bagaimana implementasi Hari Siwaratri terkait dengan kondisi kekinian? Demikianlah pemaparan materi yang disampaikan oleh Bapak Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali, A.A. Gd. Muliawan, S.Ag, M.Si, dan yang mendampingi Kasi Penyuluhan Agama Hindu, I Ketut Merta, S.Ag, M.Ag, untuk memberikan Dharma Wacana yang disampaikan di Dinas Kesehatan Propinsi Bali pada tanggal 28 Januari 2014. Seperti yang ditanyakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bali, Dr. I Ketut Suarjaya, M.PPm, pertanyaan sering muncul di masyarakat pada saat Hari Suci Siwaratri mengenai Jagra 36 jam dan Monobratha 24 jam mulai kapan dan selesainya kapan. Berbicara mengenai Siwaratri tentu yang mengacu pada Siwaratri Kalpa. Apabila ditelaah dari arti setiap katanya, Siwa bisa berarti terang, Ratri bisa berarti gelap dan Kalpa bisa berarti putaran waktu. Dengan mempelajari Siwaratri Kalpa, kita diharapkan bisa mengatasi gelap dan terangnya kehidupan. Bagaimana setiap umat melaksanakan Siwaratri dewasa ini tentu tidak ada yang bisa disalahkan, mengingat kualitas spiritual yang dimiliki oleh setiap umat tidaklah sama. Hari Siwaratri boleh diimplementasikan dengan jalan me-Brata atau boleh juga dengan jalan ber-Yadnya. Pada malam Siwaratri, umat dapat meleburkan ke-papa-an yang telah dilakukannya. Yang mana papa ini memiliki makna yang lebih luas daripada dosa itu sendiri. Ke-papa-an terjadi karena seseorang telah melakukan kesalahan yang diakibatkan oleh kebodohan atau ketidaktahuannya. Jadi, sebagai umat manusia yang dibekali Tri Premana, kita sebaiknya memikirkan terlebih dahulu apa yang ingin dilakukan, apabila hal tersebut tidak melanggar apa yang telah digariskan dalam agama, baru lakukan sesuai Swadharma masing-masing.Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali melalui penyampaian Dharma Wacana ini berharap agar seluruh peserta yang hadir bisa sama-sama belajar karena hidup beragama itu tidak hanya mengenai masalah beryadnya. Lebih lanjut Beliau berpesan agar seluruh pegawai khususnya di lingkungan Dinas Kesehatan Propinsi Bali lebih banyak mendalami ajaran Agama Hindu lebih-lebih di hari yang suci ini yaitu Hari Suci Siwaratri dan selalu berpedoman pada ajaran kebaikan sehingga bisa membangkitkan optimisme sebagai umat Hindu yang dimulai dari diri sendiri.

Kemenag Bali:Pembinaan Peningkatan Sumber Daya Manusia ( SDM ) Pada Kantor Kementerian Agama Kab. Badung

(KaKemenag Kab. Badung) Kantor Kementerian Agama Kab. Badung melaksanakan Pembinaan Peningkatan Sumber Daya Manusia ( SDM ) “Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Made Bali pada Hari Minggu, 23 Pebruari 2014 kegiatan ini dibebankan pada DIPA Kankemag Kab. Badung Nomor: SP DIPA-025.01.2.419869/2014 tanggal 5 Desember 2013, dan dikuatkan dengan Surat Keputusan Kepala Kankemenag Kab. Badung Nomor 49 Tahun 2014 tanggal 10 Pebruari 2014, Tujuan Kegiatan Pembinaan Peningkatan SDM ini adalah untuk meningkatkan kedisiplinan Pegawa Negeri Sipil di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Badung. Jumlah peserta dalam kegiatan ini sebanyak 50 orang, pesertannya terdiri dari sekateriat, pengawas dan penyuluh. Pembukaan kegiatan ini  juga di hadiri para narasumber dan Pejabat Eselon IV di lingkungan Kator Kementerian Agama Kab. Badung”,



Kepala Kantor Kementerian Agama  Kab. Badung, I Nyoman Arya, S.Ag.M.Pd.H, yang didampingi oleh Kasubag TU Ida Bagus Made Windu, S.Ag.M.Pd.H Dalam sambutan Beliau dan arahannya yang menjelaskan  tentang sasaran kegiatan yang menyangkut kedisiplinan pegawai dan masalah tertib administrasi. Dalam istilah ada sebutan bekerja dengan cerdas ( “ akan berjalan dengan benar “ )  . Disamping itu Bapak Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Badung menyampaikan apresiasi atas Kegiatan Pembinaan Peningkatan Sumber Daya Manusia ( SDM ) Pegawai sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerja pegawai dalam memberikan pelayan prima kepada masyarakat dan juga dalam meningkatkan kinerja dalam melaksanakan  tugas dan fungsi mereka masing-masing sesuai dengan SKP, serta diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan dari pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Selanjutnya di lanjutkan dengan materi yang di  sampaikan oleh Bapak Kepala  I Nyoman Arya, S.Ag.M.Pd.H ” Penjatuhan Hukum Disiplin PNS “, setelah itu  Ida Bagus Putu Arsana,SE.S.Ag,M.Si dengan materi “ Pemeriksaan Pelanggaran Disiplin PNS”, dan Ida Bagus Made Windu,S.Ag.M.Pd.H “ Disiplin PNS”. Kegiatan ini di ikuti oleh peserta sampai akhir dengan sangat serius dan antusias. ( pt )

Kemenag Bali:Sesuatu yang Menarik dari Dencarik

(KaKemenag Kab. Buleleng) Pada hari Sabtu tanggal 15 Pebruari 2014 Kantor Kementerian Agama Kab. Buleleng kuleman (diundang)untuk  mendampingi Pasangkepan pembentukan Paguyban Pamangku (pinandhita) Desa Pakraman Dencarik Kec. Banjar Kab, Buleleng. Pasangngkepan tersebut dilakukan untuk menyamakan persepsi para Pamangku sejebag desa Pakraman Dencarik yang akan ngayah pada piodalan mendatang di Pura Puseh Desa Pakraman Dencarik. Kesepakatan tersebut menyangkut pemaknaan uperengga upakara, eed upacara serta manifestasi Ida Hyang Widhi (Manifestasi Tuhan)  yang bersetana pada masing-masing palinggih. Pasangkepan diikuti oleh lebih kurang 60 orang pamangku dan tukang (sarati) banten serta prajuru Desa Pakraman Desa Dencarik.

            Pada kesempatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Buleleng yang diwakili oleh Kasi Ura Hindu serta Penyuluh Agama Hindu Non Pns, memberikan masukan kepada krama peserta paruman  agar dalam membuat suatu keputusan hendaknya secara kronologis sesuai dengan kaidah-kaidah sastra agama Hindu (Yoga) yaitu: Tarka, Nirwitarka, Sawicara, Nirwicara untuk mencapai  Samanta ,dan Ananda  untuk mencapai Sananda            Tarka artinya bertimbang terima (dharmatula) dengan pikiran yang bersih jernih dan daya nalar yang tinggi. Nirwitarka: Tanpa pertengkaran. Maksudnya, hasil dari pertimbangan dan perdebatan dalam bermusyawarah direnungkan dalam-dalam. Sawicara artinya menganalisis hasil perenungan dari perdebatan. Pertimbangan yang telah dirnungkan dalam-dalam lalu dianalisis degan ilmu pengetahuan  yang relevan. Nirwicara artinya hasil analisis yang mendalam itu direnungkan kembali sampai mengendap dalam bhatin. Dari renungan itu timbullah pemikiran yang jernih tentang hasil analisis tadi.

            Sedangkan samanta artinya, dari hasil perenungan yang mendalam kemudian diambil kesimpulan dan keputusan yang meyakinkan (samanta) untuk mendapatkan kebahagiaan (ananda). Akan halnya sananda yaitu upaya untuk mendapatkan hidup yang bahagia, mencapai kehidupan akhir yang genilang merupakan manunggal dengan Tuhan.

            Mewujudkan kebulatan dalam menyongsong piodalan (yajnya) adalah suatu proses untuk mengendalikan diri agar yajnya yang dilaksanakan tidak ternodai dengan fikiran- fikiran dapat yang tidak suci dan tidak iklas sehingga yajnya yang suci  (satwika yajnya) yang kita selenggarakan terwujud.

            Masyarakat tampaknya setuju dengan saran tersebut di atas, dan bertekad untuk melakukan segala persiapan termasuk melakukan rehabilitasi beberapa pelinggih yang ada di pura tersebut.

Comments