Skip to main content

Kemenag NTT: Budaya Pasola, Perang Tanpa Dendam..!!!

Kemenag NTT: Belajar Rukun Dan Damai Dari Festival Budaya Pasola - Sumba
Kemenag NTT: Belajar Rukun Dan Damai Dari Festival Budaya Pasola - Sumba
Kemenag NTT: Budaya Pasola, Perang Tanpa Dendam..!!! http://ntt.kemenag.go.id

Tambolaka (Inmas) – Tombak – tombak yang terbuat dari kayu dilempar  sekuat tenaga dengan berbagai teknik alamiah oleh Penunggang Kuda. Sambil berlari di  lapangan terbuka (tempat keramat untuk pasola setiap tahun) dan disaksikan ribuan penonton di sekeliling  lapangan dengan sorak sorai dalam bahasa-bahasa adat Sumba terjadi  perang tombak  antara para lelaki dari kampung berbeda.

Tiap kampung  atau suku menyumbang lebih dari Lima Puluh (50) orang lelaki untuk berperang yang disebut Pasola. Tidak ada dendam kesumat, tak ada amarah, dan tak ada ‘penyelesaian’ diluar lapangan andai ada yang terluka kena tombak/lembing, cedera atau cacat bahkan meninggal sekalipun.

Mereka berperang tanpa dendam !!! Pasola adalah bagian dari rangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba penganut agama asli yang disebut Marapu.

Sola artinya Tombak/Lembing, sedangkan Tombaknya dari bahan kayu pilihan, bukan dari bahan besi. Ujung tombak berdiameter  1,5 cm biasanya tumpul, tidak boleh tajam.

Ketika perhelatan Pasola digelar tombak – tombak kayu ini akan berterbangan di udara mencari korban atau lawan.Perhelatan Pasola di Sumba hanya terjadi setahun sekali dan tidak terjadi pada tanggal yang sama.

Di Kabupaten Sumba Barat Daya, upacara ritual Nale yang dirayakan  dalam acara festival budaya Pasola  cukup dikenal luas dengan nama  Pasola yang biasa dilaksanakan di dua tempat yaitu wilayah Kodi pada beberapa tempat (Kabupaten Sumba Barat Daya) dan wilayah Lamboya di dua tempat yaitu Lamboya dan Wanokaka (Kabupaten Sumba Barat).

Petugas Humas Kemenag Sumba Barat Daya, Paulus Pedro, S.Sos, berkesempatan menyaksikan dan meliput langsung Pasola yag berlangsung di wilayah Kodi, ketika mendampingi Kakankemenag SBD, Drs. Julius David Kalumbang menghadiri Festival Budaya Pasola di Desa Atedalo, kecamatan Kodi, beberapa waktu lalu. Perjalanan dari kantor Kemenag ke tempat Festival budaya Pasola berjarak sekitar 80 Km dari kota Tambolaka.

Informasi  yang diperoleh kontributor media ini bahwa menurut perhitungan penganut agama lokal Marapu, perayaan Pasola biasanya dilakukan dengan memperhatikan posisi bulan di langit dengan hitungan bulan gelap hari ke tujuh ketika bulan Purnama Penuh pada bulan Februari Kalemder Masehi.

Biasanya saat – saat mendekati musim perang tombak, berbagai seremonial pendahuluan dilakukan sebelumnya oleh pemimpin tertinggi suku yang dikenal dengan sebutan Rato Nale.

Saat itu semua warga Marapu, baik kaum berpunya maupun tidak berpunya, berstatus atau tidak berstatus wajib hadir dan mentaati semua perintah pimpinan tertinggi Marapu. Tak ada bantahan, tak ada komentar, tak ada protes dan tak ada kata ‘tidak mau’ yang keluar dari mulut mereka. Semua patuh dan taat, semua menjaga dan memelihara kerukunan yang mentradisi ini.(Ped)

Kemenag NTT: Belajar Rukun Dan Damai Dari Festival Budaya Pasola - Sumba http://ntt.kemenag.go.id

Tambolaka (Inmas) – Salah seorang putra asli Kodi, Yosef Rangga Kapodo,SS yang ditemui ketika sedang berlangsungnya Pasola Kodi, pekan lalu, mengungkapkan, Pasola pada prinsipnya adalah sebuah upacara ritual perdamaian antara kedua Kelompok (Pasukan, Red) yang sedianya berperang untuk memperebutkan gadis pujian hati.

Menurut cerita warisan leluhur, konon di Kodi, dahulu, hidup seorang gadis cantik, Rara Winyo, namanya. Oleh kecantikannya, banyak Perjaka yang terpikat.  Suatu ketika, datang dua orang Perjaka dengan pasukan masing-masing untuk melamar gadis Pujaan. Karena mencintai keduanya, gadis pujaan memutuskan untuk menolak keduanya. Penolakan inilah yang memicu bakal terjadinya perang antara kedua pasukan. Akan tetapi, gadis pujaan meminta agar kedua Perjaka bersama rombongan tidak boleh berperang, karena dirinya akan menjelma menjadi Nale (Cacing Laut) yang dapat menjadi ‘milik’ (Baca: dikonsumsi)oleh semua orang. Dan sebagai ungkapan persetujuan atas permintaan gadis pujaan, maka dilaksanakanlah Pasola, sebagai upacara perdamaian. Tombak yang telah dicabut matanya, dipakai untuk saling melempar/ menombak dari atas kuda yang dipacu kencang. Itulah Pasola.

Masih menurut pria murah senyum yang sangat berminat dengan  budaya Kodi dan saat ini menjabat sebagai Kasi Bimas Katolik Kantor Kemenag Sumba Barat Daya,  bahwa nilai-nilai luhur inilah yang diwariskan oleh para leluhur dan hendaknya terus diremajakan dari waktu ke waktu dan sesungguhnya harus berimplikasi dalam kehidupan nyata sehari-hari. Akan tetapi, dalam kenyataan, hal ini tidak mudah. Perilaku manusia saat ini cenderung sulit terbendung, maka selama ini muncul pertikaian-pertikaian.

“Selanjutnya, kita berharap agar tata nilai warisan leluhur ini terus dikembangkan agar makna Pasola yang sesungguhnya yangmengedepankan kedamaian selalu diwujudkan dalam kehidupan bersama,” urainya memberi penjelasan.

Pria kelahiran  Homba Karipit, kecamatan Kodi Utara 46 tahun silam ini menambahkan, semua kita bisa memetik nilai dan mau belajar  ‘rukun’ dari perang gaya Pasola milik Pulau Sumba ini, dan betapa indahnya dunia ini untuk didiami.

Sementara itu, Staf Kemenag SBD, Yunallen Letik, S.Sos yang saat itu sedang bincang-bincang dengan peminat budaya Kodi ini menambahkan, ‘’Andaikata tata nilai budaya ini sungguh-sungguh diaplikasikan sepenuhnya di percaturan Politik SBD, pasti sonde ada korban politik (Masyarakat, Red)  dan tidak ada yang meninggal sia – sia,’’ ujarnya dengan dialek Kupang sambil menengok kembali kisruh pilkada di SBD yang hangat di media massa di se-antero jagat Nusantara.(Ped)

Kemenag NTT: Unit Umum Gelar Pelatihan IT http://ntt.kemenag.go.id

 Larantuka (Inmas) – Sebagai tindak lanjut hasil Rapat Koordinasi Tingkat Pimpinan Lingkup Kantor Kementerian Agama Kab. Flores Timur pada 25/02 lalu maka unit umum Sub Bagian Tata Usaha mengadakan pelatihan komputer bagi para PNS yang belum mengerti komputer di Kantor Kementerian Agama Kab. Flores Timur.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM jajaran Kementerian Agama Kab. Flores Timur dalam pemanfaatan IT guna mendukung peningkatan kinerja yang efektif dan efisien.

Pelatihan komputer yang dipandu oleh ibu Servasia Herlina,S.Kom salah satu staf di unit umum dengan pengawasan langsung oleh Koordinator Umum, Dra. Maria Magdalena.

Frans Lake, seorang peserta pelatihan tersebut begitu asyik dan serius dalam latihan mengetik, sembari berusaha untuk mengingat satu persatu petunjuk yang sudah diberikan. Walau dengan tertati-tatih tapi beliau mampu menyelesaikan satu langkah dengan baik.

Saat ditanya apa kesan pertamanya, beliau dengan sedikit malu-malu mengatakan puas dan merasa mulai tertarik dengan alat tersebut.

“Ya, saya cukup senang hari ini. Akan berusaha semaksimal mungkin untuk lebih mengenal dan bisa mengoperasikan sendiri sebelum pensiun. Hitung-hitung kado untuk pensiun lah,” katanya diiringi tawa dari semua teman-temannya.

Untuk diketahui, program pelatihan Komputer sudah dicanangkan dalam Rapat Koordinasi tingkat pimpinan lingkup Kantor Kementerian Agama Kab. Flores Timur, yang dilaksanakan setiap hari jumad mulai tanggal 28/02.

Dengan diadakan pelatihan Komputer di unit umum pada Kamis 27/02 kemarin, menandakan bahwa unit umum siap dengan program tersebut. (***peter)

Comments