Skip to main content

Kemenag NTT: Rm. Efraim Pea, Pr: Martabat Perkawinan Harus Dilindungi!

Kemenag NTT: Rm. Efraim Pea, Pr: Martabat Perkawinan Harus Dilindungi!
Kemenag NTT: Rm. Efraim Pea, Pr: Martabat Perkawinan Harus Dilindungi!
Kemenag NTT: Rm. Efraim Pea, Pr: Martabat Perkawinan Harus Dilindungi!  http://ntt.kemenag.go.id

Bajawa (Inmas) – Pernyataan tersebut disampaikan oleh Rm. Efraim Pea, Pr pada kesempatan menjadi pemateri tunggal dalam Seminar Keluarga yang bertajuk: Dengan Sosialisasi Hukum Perkawinan, Kita Tingkatkan Kualitas Keluarga Katolik, Sabtu (01/03).

Seminar setengah hari yang diselenggarakan oleh Seksi Pastoral Keluarga Paroki St. Yosef Bajawa itu dihadiri oleh segenap fungsionaris pastoral Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yosef mulai dari tingkat Komunitas Umat Basis (KUB) hingga pengurus inti DPP.

Menurut Fransiskus H. Say, penyuluh Agama Katolik pada Paroki St. Yosef  Bajawa ini, seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang baik bagi keluarga-keluarga Katolik dalam hal ini anggota seksi Pastoral Keluarga mulai dari tingkat KUB sampai pada pengurus inti DPP mengenai seluk beluk dan martabat perkawinan Katolik.

Dalam makalahnya yang diberi judul; Reanimasi Pastoral Perkawinan Menurut Kitab Hukum Kanonik 1983, Rm. Efraim membeberkan secara lugas segala hal yang menyangkut paham perkawinan Katolik baik menyangkut Paham Dasar Perkawinan, Sifat-sifat hakiki perkawinan Katolik, Konsensus Perkawinan, Syarat-syarat untuk sahnya perkawinan Katolik serta pastoral perkawinan Katolik.

Menurut beliau, tanpa keluarga, kehidupan baru dan perubahan generasi di dunia ini tidak bisa diandaikan untuk ada. Inilah prinsip dasar yang menjadi dasar dan harapan Gereja untuk secara khusus menjadikan keluarga sebagai institusi insani yang diilahikan.

“Dalam kaitannya dengan perkawinan, Gereja mempunyai kompetensi yang disebut: “proprium, exclusif dan independen” atas perkawinan orang-orang Kristiani,” jelas hakim pada Tribunal Gereja Keuskupan Agung Ende ini.

Wewenang proprium karena wewenang itu diterima langsung dari yang Ilahi dan merupakan kodrat Gereja sendiri. Hakikat sakramen dari perkawinan memberi kepada Gereja suatu kompentensi yang ekslusif. Sementara kompetensi Gereja yang independen artinya Gereja tidak berada di bawah kuasa manusiawi/duniawi manapun.

Seminar yang berlangsung di aula John Thom Paroki St. Yosef ini berlangsung komunikatif karena para peserta juga terlibat aktif dalam sesi dialog yang dibangun.***(yonsch)

Kemenag NTT: Drs. Karolus Sara Buang Lera: Hidup Dinilai Bukan dari Lamanya http://ntt.kemenag.go.id

Bajawa (Inmas)  – “Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran”. Ungkapan Kahlil Gibran untuk secara bijak memahami perpisahan ini  dikutip Yulianus Haryon, pembawa acara pada kesempatan acara ramah tamah perpisahan  antara pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada dengan dua orang pegawainya yang dimutasi ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nagekeo pada Jumat (28/02).

Dua orang pegawai yang dimutasi itu adalah Drs. Natsir Muhammad, seorang pengawas pendidikan Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada dan Yohanes Roja, S.S, seorang penyuluh agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada.

Acara yang dikemas dalam nuansa persaudaraan itu dihadiri oleh segenap pegawai pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada baik PNS maupun para tenaga honorer.

Haji Natsir, demikian Drs. Natsir Muhammad biasa disapa, dalam sambutan perpisahannya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada dan segenap pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada untuk segala kebersamaan dan kerja sama yang telah dibangun selama ini.

“Kami yakin, segala yang telah kita jalani bersama selama ini ada dalam rencana Allah. Terima kasih untuk semuanya,” ujar beliau.

Pada kesempatan lain, Drs. Karolus Sara Buang Lera, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada dalam kesempatan memberikan sepatah kata ungkapan hati menyampaikan terima kasih kepada kedua orang pegawai yang dimutasi tersebut.

“Hidup dinilai bukan dari lamanya tetapi sejauh mana kita memberi arti pada keberadaan kita,” ujar mantan Kasubbag IKN pada Kanwil Kementerian Agama Propinsi NTT ini di sela-sela wejangannya.

Olehnya beliau mengharapkan kepada pegawai yang dimutasi untuk semakin menunjukkan dedikasi dan pelayanan yang memadai di tempat yang baru. Selamat Jalan kawan, selamat berkarya di tempat yang baru!***(yonsch).

Kemenag NTT: MTsN Kalabahi GO GREEN ! http://ntt.kemenag.go.id

MTsN Kalabahi  (Inmas) – GO GREEN…!!! Demikian motivasi MTsN Kalabahi dalam menata lingkungannya. Dari semboyan tersebut, maka semua civitas akademi MTsN Kalabahi selalu menjaga lingkungannya agar tetap hijau. Andaikan ada tanaman yang mati atau layu, maka akan segera dicarikan tanaman pengganti hingga wajar saja kalau MTsN kalabahi selalu menjadi juara sekolah berbasic lingkungan baik di tingkat Kabupaten bahkan di tingkat Propinsi.

Beberapa waktu lalu, Kepala MTsN Kalabahi,  Bapak Zufri, S.Pd bersama Kepala Kementerian Agama Kabupaten Alor, Bapak Drs. Muhammad Marhaban melakukan penanaman pohon untuk penghijauan yang dilakukan di halaman MTsN Kalabahi.Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Kemenag. Kabupaten Alor, Drs. Muhammad Marhaban mengharapkan agar apa yang dilakukan oleh MTsN Kalabahi dapat menjadi contoh bagi sekolah lain untuk senantiasa menjaga lingkungannya agar tetap asri dan hijau.

” Mudah-mudahan ini menjadikan contoh bagi sekolah lain intuk selalu menjaga lingkungannya agar tetap hijau,” katanya berharap.

Sementara itu, Kepala MTsN Kalabahi, Zufri, S.Pd berharap agar Siswa MTsN Kalabahi mampu menjaga lingkungannya agar tetap hijau. Dalam acara yang juga dihadiri oleh para guru dan pegawai pada MTsN Kalabahi, berhasil ditanam 10 pohon kenari.

“Semoga pohon ini akan tumbuh menjadi besar dan menjadi icon di MTsN kalabahi sesuai dengan ikon pulau alor sebagai Pulau Kenari.”  ***MFL

Comments